Ekoshadi’s News
“Pengalaman Adalah Guru Terbaik”

Feb
03

Anda berminat dalam PERTAHANAN?

Jadilah patriot dan junjung tinggi negara anda!

Persyaratan :
1. WNI
2. Tidak Rabun Warna
3. Lulus SLTA
4. Berumur diantara 18-40 tahun

Benefits :
1. Pegawai Negeri
2. Gaji pokok : Rp 4.500.000
3. Tunjangan Tugas : Rp 1.500.000
4. Tunjangan Rumah Rp 2.000.000
5. Tunjangan seragam: Rp 200.000
6. Gratis kursus mempertahankan diri
7. Kenaikan pangkat dan dilantik oleh ketua unit setelah mengambil ujian tertentu

Bila anda berminat, silahkan datang di kantor-kantor KOREM terdekat dengan membawa KTP dan pass photo 3X4 pada tanggal 12 February 2009.

Bila anda terpilih, 3 pasang seragam dinas dan perlengkapan standar akan diberikan dan anda harus melaporkan kembali diri anda selambat-lambatnya 60 hari setelah surat pengesahan dikeluarkan.

Posisi yang tersedia:
1. Power Rangers

pw

2. Kamen Riders

pw-2
3. Ultraman

pw-3
4. Sailormoon (hanya wanita)

pw-4
5. Gatotkaca

pw-5

Jan
14

Teman saya ini (katakanlah namanya Wati, 27 tahun, bekerja pada suatu perusahaan konsultan yang tidak terlalu besar sebagai asisten dari salah seorang partner pada perusahaan konsultan tersebut (kita sebut saja namanya Andy).

Wati sangat mengagumi profil dan karakter Andy. Sebut saja semua hal yang baik, maka Andy memilikinya. Otak yang cemerlang, sikap yang profesional dan gentleman, penampilan yang selalu rapi dan nice looking serta usia baru 36 tahun (waktu itu).

Singkat cerita Wati mulai “naksir” Andy. Ternyata Wati membiarkan perasaannya kepada Andy tumbuh tanpa halangan. Semakin hari ia semakin jatuh hati kepada Andy. Andy bukannya tidak tahu akan hal itu tetapi sikapnya yang Professional di kantor yang tidak membiarkan hal-hal pribadi mencampuri urusan kantor membuat Wati semakin mengagumi pribadi Andy.

Suatu hari urusan kantor membuat mereka berdua harus pergi ke beberapa kota di Jawa Tengah. DL (dinas kota) nich ceritanya. Untuk memudahkan mobilisasi, mereka naik pesawat ke Semarang dan menyewa mobil untuk melakukan perjalanan darat di sekitar Semarang, Magelang, Yogya dan Solo dalam rangka melakukan suatu survei khusus untuk Kepentingan klien.

Entah bagaimana ceritanya mereka kemalaman dan menginap di sebuah hotel kecil. Sebenarnya Andy ingin memesan 2 kamar tetapi karena hanya tersisa 1 kamar ia meminta pendapat Wati. Karena memang   sudah sangat lelah Wati  setuju untuk sekamar dengan Andy (sebenarnya Wati agak “sedikit senang”  dengan kondisi darurat tersebut).

Karena tidak ber-AC, maka Andy membuka jendela kamar. Masalah lainnya kamar tersbut hanya memiliki 1 ranjang Berukuran tanggung dan tidak memiliki kursi panjang. Tidak mungkin bagi Wati untuk meminta Andy tidur di lantai.  Jadilah akhirnya mereka tidur Seranjang setelah Andy berjanji bahwa ia tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak.

Sebenarnya Wati tidak bisa tidur karena seranjang dengan Andy. Sebagai seorang wanita jantungnya berdebar sangat  kencang karena tidur serajang dengan pria sopan yang sangat dikaguminya. Kaki mereka beberapa kali saling bersentuhan karena ranjangnya memang pas-pasan.

Setelah setengah jam, angin malam yang masuk lewat jendela Membuat Wati merasa kedinginan sehingga ia memberanikan diri bertanya Kepada Andy: “Mas Andy, aku kedinginan nih. Boleh nggak minta tolong

Jendelanya ditutup saja?”

Andy tidak langsung menjawab dan Wati berpikir Andy sudah tertidur sehingga ia berkata lagi: “Mas Andy…”

Kali ini Andy langsung menjawab: “Wat, kamu kedinginan ya?

” MAUKAH KAMU MALAM INI KAMU BERTINDAK SEPERTI ISTERI SAYA?”

Jantung Wati serasa berhenti berdetak. Pikirannya langsung guncang mendengar pertanyaan Andy.

Dengan hati-hati ia bertanya:

“Maksud mas Andy?”

Maksud saya…., jendelanya kamu tutup sendiri ya ?!”

Jan
13

SELALU DISERTAI CAHAYA  ALLAH

Ketika Mush’ah bin Umeir tiba di Madinah-sebagai utusan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasalam untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang-orang Anshar yang telah bai’at kepada Nabi dan membimbing mereka melakukan shalat, maka ‘Abbad bin Bisyir radhiallahu anhu adalah seorang budiman yang telah dibukakan Allah hatinya untuk menerima kebaikan. la datang menghadiri majlis Mush’ab dan mendengarkan da’wahnya, lain diulurkan tangannya mengangkat bai’at memeluk Islam. Dan semenjak saat itu mulailah ia menempati kedudukan utama di antara orang-olang Anshar yang diridlai oleh Allah serta mereka ridla kepada Allah ….

Kemudian Nabi pindah ke Madinah, setelah lebih dulu orang-orang Mu’min dari Eulekah tiba di sana. Dan mulailah terjadi peperangan-peperangan dalam mempertahankan diri dari serangan-serangan kafir Quraisy dan sekutunya yang tak henti-hentinya memburu Nabi dan ummat Islam. Kekuatan pembawa cahaya dan kebaikan bertarung dengan kekuatan gelap dan kejahatan. Dan pada setiap peperangan itu ‘Abbad bin Bisyir berada di barisan terdepan, berjihad di jalan Allah dengan gagah berani dan mati-matian dengan cara yang amat mengagumkan ….

Dan mungkin peristiwa yang kita paparkan di bawah ini dapat mengungkapkan sekelumit dari kepahlawanan tokoh Mu’min ini….

Rasulullah shallallahu alaihi wasalam  dan Kaum Muslimin selesai menghadapi perang Dzatur Riqa’, mereka sampai di suatu tempat dan bermalam di sana, Rasulullah shallallahu alaihi wasalam :memilih beberapa orang shahabatnya untuk berkawal secara bergiliran. Di antara mereka terpiiih ‘Ammar bin Yasir dan ‘Abbad bin Bisyir yang berada pada satu kelompok.

Karena dilihat oleh ‘Abbad bahwa kawannya ‘Ammar sedang lelah, diusulkannyalah agar ‘Ammar tidur lebih dulu dan ia akan berkawal. Dan nanti bila ia telah mendapatban istirahat yang cukup, maka giliran ‘Ammar pula berkawal menggantikannya.

‘Abbad melihat bahwa lingkungan sehelilingnya aman. Maka timbullah fikirannya, kenapa ia tidak mengisi waktunya dengan melakukan shalat, hingga pahala yang akan diperoleh akan jadi berlipat … ? Demikianlah ia bangkit melakukannya ….

Tiba-tiba sementara ia berdiri sedang membaca sebuah surat Al-Quran setelah al-Fatihah sebuah anak panah menancap di pangkal lengannya. Maka dicabutnya anak panah itu dan diteruskannya shalatnya…..

Tidak lama antaranya mendesing pula anak panah kedua yang mengenai anggota badannya.

Tetapi ia tak hendak menghentikan shalatnya hanya dicabutnya anak panah itu seperti yang pertama tadi, dan dilanjutkannya bacaan surat.

Kemudian dalam gelap malam itu musuh memanahnya lalu untuk ketiga kalinya. ‘Abbad menarik anak panah itu dan mengakhiri bacaan surat. Setelah itu ia ruku’ dan sujud …, sementara tenaganya telah lemah disebabkan sakit dan lelah.

Lalu antara sujud itu diulurkannya tangannya kepada kawanya yang sedang tidur disampingnya dan ditarik-tariknya ia sampai terbangun.

Dalam pada itu ia bangkit dari sujudnya dan membaca tasyahud, lalu menyelesaikan shalatnya.

‘Ammar terbangun mendengar suara kawannya yang tak putus-putus menahan sakit: “Gantikan daku mengawal …, karena aku telah kena… !” ‘Ammar menghambur dari tidurnya hingga menimbulkan kegaduhan dan takutnya musuh yang menyelinap. Mereka melarikan diri, sedang ‘Ammar berpaling kepada temannya seraya katanya: “Subhanallah … ! Kenapa saya tidak dibangunkan ketika kamu dipanah yang pertama kali tadi…,”

Ujar ‘Abbad: “Ketika daku shalat tadi, aku membaca beberapa ayat al-Quran yang amat mengharukan hatiku, hingga aku tak ingin untuk memutuskannya … ! Dan demi Allah, aku tidaklah akan menyia-nyiakan pos penjagaan yang ditugaskan Rasul kepada kita menjaganya, sungguh, aku lebih suka mati daripada memutuskan bacaan ayat-ayat yang sedang kubaca itu … !”

‘Abbad amat cinta sebali kepada Allah, kepada Rasul dan kepada Agamanya …. Kecintaan itu memenuhi segenap perasaan dan seluruh kehidupannya. Dan semenjak Nabi shallallahu alaihi wasalam  berpidato dan mengarahkan pembicaraannya kepada Kaum Ansbar, ia termasuk salah seorang di antara mereka. Sabdanya:

“Hai golongan Anshar… !
Kalian adalah inti, sedang golongan lain bagai kulit ari!
Maka tak mungkin aku dicederai oleh pihak kalian ..,!”

Semenjak itu, yakni semenjak ‘Abbad mendengar ucapan ini dari Rasulnya, dari guru dan pembimbingnya kepada Allah, dan ia rela menyerahkan harta benda nyawa dan hidupnya di jaIan Allah dan di JaIan Rasul-Nya …, maka kita temui dia di arena pengurbanan dan di medan iaga muncul sebagai orang pertama, sebaliknya di waktu pembagian keuntungan dan harta rampasan, sukar untuk ditemubannya

Di samping itu ia adalah seorang ahli ibadah yang tekun …, seorang pahlawan yang gigih dalam berjuang …,seorang dermawan yang rela berqurban …,dan seorang mu’min sejati yang telah membaktikan hidupnya untuk keimanannya ini … !

Keutamaannya ini telah dikenai luas di antara shahabat-shahabat Rasul. Dan Aisyah radhiallahu anha  Ummul Mu’minin pernah mengatakan tentang dirinya:  Ada tiga orang Anshar yang keutamaannya tak dapat diatasi oleh seorang pun juga yaitu:
Sa’ad bin Mu’adz, Useid bin Hudlair dan ‘Abbad bin Bisyir… !”

Orang-orang Islam angkatan pertama mengetahui bahwa ‘Abbad adalah seorang tokoh yang beroleh karunia berupa cahaya dari Allah …. Penglihatannya yang jelas dan beroleh penerangan, dapat mengetahui tempat-tempat yang baik dan meyakinkan tanpa mencarinya dengan susah-payah. Bahkan kepercayaan shahabat-shahabatnya mengenai cahaya ini sampai ke suatu tingkat yang lebih tinggi, bahwa ia merupakan benda yang dapat terlihat. Mereka sama sekata bahwa bila ‘Abbad berjalan di waktu malam, terbitlah daripadanya berkas-berkas cahaya dan sinar yang menerangi baginya jalan yang akan ditempuh ….

Dalam peperangan menghadapi orang-orang murtad sepeninggal Rasulullah shallallahu alaihi wasalam maka ‘Abbad memikul tanggung jawab dengan keberanian yang tak ada taranya … i Apalagi dalam pertempuran Yamamah di mana Kaum Muslimin menghadapi balatentara yang paling kejam dan paling berpengalaman dibawah pimpinan Musailamatul Kaddzab, ‘Abbad melihat bahaya besar yang mengancam Islam. Maka jiwa pengurbanan dan teras kepahlawanannya mengambil bentuk sesuai dengan tugas yang dibebankan oleh keimanannya, dan meningkat ke taraf yang sejajar dengan kesadarannya akan bahaya tersebut, hingga menjadikannya sebagai prajurit yang berani mati, yang tak menginginkan kecuali mati syahid di jalan Ilahi ….

Sehari sebelum perang Yamamah itu dimulai,’Abbad mengalami suatu mimpi yang tak lama antaranya diketahui Ta’birnya secara gamblang dan terjadi di arena pertempuran sengit yang diterjuni oleh Kaum Muslimin.

Dan marilah kita panggil seorang shahabat mulia Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu anhu untuk menceritakan mimpi yang dilihat oleh ‘Abbad tersebut begitu pun Ta’birnya, serta peranannya yang mengagumkan dalam pertempuran yang berakhir dengan syahidnya….
Demikian cerita Abu Sa’id: ” ‘Abbad bin Bisyir mengatakan kepadaku: — “Hai Abu

Sa’id! Saya bermimpi semalam melihat langit terbuka untukku, kemudian tertutup lagi … !
Saya yakin bahwa ta’birnya insya Allah saya akan menemui syahidnya … !” “Demi Allah!” ujarku, “itu adalah mimpi yang baik … !”

“Dan di waktu perang Yamamah itu saya lihat ia berseru kepada orang-orang Anshar: “Pecahkan sarung-sarung pedangmu dan tunjukkan kelebihan kalian .. !”

Maka segeralah menyerbu mengiringkannya sejumlah empat ratus orang dari golongan Anshar hingga sampailah mereka ke pintu gerbang taman bunga, lalu bertempur dengan gagah berani.

Ketika itu ‘Abbad — semoga Allah memberinya rahmat menemui syahidnya. Wajahnya saya lihat penuh dengan bekas sambaran pedang, dan saya mengenalnya hanyalah dengan melihat tanda yang terdapat pada tubuhnya … !”

Demikianlah ‘Abbad meningkat naik ke taraf yang sesuai untuk memenuhi kewajibannya sebagaiseorang Mu’min dari golongan Anshar, yang telah mengangkat bai’at kepada Rasul untuk membaktikan hidupnya bagi Allah dan menemui syahid di jalan-Nya …

Dan tatkala pada permulaannya dilihatnya neraca pertempuran sengit itu lebih berat untuk kemenangan musuh, teringatlah olehnya ucapan Rasulullah terhadap Kaumnya golongan Anshar:

— “Kalian adalah inti … ! Maka tak mungkin saya dicederai oleh pihak kalian!”

Ucapan itu memenuhi rongga dada dan hatinya, hingga seolah-olah sekarang ini Rasulullah masih berdiri, mengulang-ulang kata-katanya itu … ‘Abbad merasa bahwa seluruh tanggung jawab peperangan itu terpikul hanya di atas bahu golongan Anshar semata …atau di atas bahu mereka sebelum golongan lainnya … ! Maka ketika itu naiklah ia ke atas sebuah bukit lalu berseru: — “Hai golongan Anshar … ! Pecahkan sarung-sarung pedangmu, dan tunjukkan keistimewaanmu dari golongan lain… !”

Dan ketika seruannya dipenuhi oleh empat ratus orang pejuang, ‘Abbad bersama Abu Dajanah dan Barra’ bin Malik mengerahkan rnereka ke taman maut, suatu taman yang digunakan oleh Musailamah sebagai benteng pertahanan…..dan pahlawan besar itu pun berjuanglah sebagai layaknya seorang laki-laki, sebagai seorang Mu’min …, dan sebagai seorang warga anshar ….

Dan pada hari yang mulia itu, pergilah ‘Abbad menemui syahidnya .,. ! Tidak salah mimpi yang dilihat dalam tidurnya semalam ,,. ? Bukankah ia melihat langit terbuka, kemudian setelah ia masuk ke celahnya yang terbuka itu, tiba-tiba langit

bertaut dan tertutup kembali… ! Dan mimpi itu dita’wilkannya bahwa pada pertempuran yang akan terjadi ruhnya akan naik ke haribaan Tuhan dan penciptanya

Sungguh, benarlah mimpi itu dan benarlah pula ta’birnya … ! Pintu-pintu langit telah terbuka untuk menyambut ruh ‘Abbad bin Bisyir dengan gembira, yakni searang tokoh yang oleh Allah diberi cahaya….

Jul
16

Seorang wanita pergi ke dokter ahli kejiwaan dengan mengeluhkan bahwa suaminya seorang perokok berat,dalam satu hari suaminya bisa menghabiskan 12 bungkus rokok.
Wanita : “Dok tolonglah saya bagaimana bisa menghilankan kebiasaan buruk suami saya itu??”
Dokter : “Gampang nyoya, begini saja setiap suami anda mandi, anda ambil rokoknya satu persatu lalu colekkanlah di lubang anus anda”.
Setelah pulang dari dokter si Istri mempraktekkan apa yang dianjurkan sang dokter tersebut dan ternyata berhasil, suaminya sudah tidak lagi merokok.
Tetapi satu bulan kemudian si Istri kembali mendatangi dokter spesialis tersebut.
Dokter: “Bagaimana nyonya apa resep saya berhasil?”
Wanita: “Berhasil total dok. Tetapi sekarang saya ada masalah baru lagi!”
Dokter: “Masalah apalagi nyonya?”
Wanita: “Masalahnya sekarang setiap saya melihat rokok tak tahan rasanya ingin segera mencolekkannya ke dalam lobang dubur saya”.
Dokter :”@#$%#@!”

Jul
16

Sebagian manusia ada yang beranggapan bahwa makna tawakal adalah tidak perlu berusaha dengan badan, tidak perlu mempertimbangkan dangan hati dan cukup menjatuhkan ke tanah seperti orang bodoh atau seperti daging yang diletakkan di atas papan pencincang. Tentu saja ini merupakan anggapan yang bodoh dan hal ini haram dalam syariat.

Syariat memuji orang-orang yang bertawakal. Pengaruh tawakal akan tampak dalam gerakan hamba dan usahanya untuk menggapai tujuan. Usaha hamba itu bisa berupa mendatangkan manfaat yang belum didapat seperti mencari penghidupan, ataupun menjaga apa yang sudah ada, seperti menyimpan. Usaha itu juga bisa untuk mengantisipasi bahaya yang datang, seperti menghindari serangan, atau bisa juga menyingkirkan bahaya yang sudah datang seperti berobat saat sakit. Aktivitas hamba tidak lepas dari empat gambaran berikut ini:

Gambaran pertama:

Mendatangkan manfaat. Adapun sebab-sebab yang bisa mendatangkan manfaat ada tiga tingkatan:

Sebab yang pasti, seperti sebab-sebab yang berkaitan dengan penyebab yang memang sudah ditakdirkan Allah dan berdasarkan kehendak-Nya, dengan suatu kaitan yang tidak mungkin ditolak dan disalahi. Misalnya, jika ada makanan di hadapanmu, sementara engkau pun dalam keadaan lapar, lalu engkau tidak mau mengulurkan tangan ke makan itu seraya berkata, “Aku orang yang bertawakal. Syarat tawakal adalah meninggalkan usaha. Sementara mengulurkan tangan ke makan adalah usaha, begitu pula mengunyah dan menelannya”. Tentu saja ini merupakan ketololan yang nyata dan sama sekali bukan termasuk tawakal. Jika engkau menunggu Allah menciptakan rasa kenyang tanpa menyantap makanan sedikit pun, atau Dia menciptakan makanan yang dapat bergerak sendiri ke mulutmu, atau Dia menundukkan malaikat untuk mengunyah dan memasukkan ke dalam perutmu, berarti engkau adalah orang yang tidak tahu Sunnatullah.

Begitu pula jika engkau tidak mau menanam, lalu engkau berharap agar Allah menciptakan tanaman tanpa menyemai benih, atau seorang istri dapat melahirkan tanpa berjima’, maka semua itu adalah harapan yang konyol. Tawakal dalam kedudukan ini bukan dengan meninggalkan amal, tetapi tawakal ialah dengan ilmu dan melihat keadaan. Maksudnya dengan ilmu, hendaknya engkau mengetahui bahwa Allahlah yang menciptakan makanan, tangan, berbagai sebab, kekuatan untuk bergerak, dan Dialah yang memberimu makan dan minum. Maksud mengetahui keadaan, hendaknya hati dan penyandaranmu hanya kepada karunia Allah, bukan kepada tangan dan makanan. Karena boleh jadi tanganmu menjadi lumpuh sehingga engkau tidak bisa bergerak atau boleh jadi Allah menjadikan orang lain merebut makananmu. Jadi mengulurkan tangan ke makanan tidak menafikan tawakal.

Sebab-sebab yang tidak meyakinkan, tetapi biasanya penyebabnya tidak berasal dari yang lain dan sudah bisa diantisipasi. Misalnya orang yang meninggalkan tempat tinggalnya dan pergi sebagai musafir melewati lembah-lembah yang jarang sekali dilewati manusia. Dia berangkat tanpa membawa bekal yang memadai. Orang seperti ini sama dengan orang yang hendak mencoba Allah. Tindakannya dilarang dan dia diperintahkan untuk membawa bekal. Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bepergian, maka beliau membawa bekal dan juga mengupah penunjuk jalan tatkala hijrah ke Madinah.

Menyamarkan sebab-sebab yang diperkirakan akan menyeret kepada penyebab, tanpa disertai keyakinan yang riel, seperti orang yang membuat pertimbangan secara terinci dan teliti dalam suatu usaha. Selagi tujuannya benar dan tidak keluar dari batasan syariat, maka hal ini tidak mengeluarkannya dari tawakal. Tapi dia bisa dikategorikan orang-orang yang ambisius jika maksudnya utnuk mencari kehidupan yang melimpah. Namun meninggalkan perencanaan sama sekali bukan termasuk tawakal, tetapi ini merupakan pekerjaan para penganggur yang ingin hidup santai, lalu beralasan dengan sebutan tawakal. Umar Radhiyallahu Anhu berkata, “Orang yang bertawakal ialah yang menyemai benih di tanah lalu bertawakal kepada Allah.”

Gambaran kedua:

Mempertimbangkan sebab dengan menyimpan barang. Siapa yang mendapatkan makan pokok yang halal, yang andaikan dia bekerja untuk mendapatkan yang serupa akan membuatnya sibuk, maka menyimpan makan pokok itu tidak mengeluarkannya dari tawakal, terlebih lagi jika dia mempunyai tanggungan orang yang harus diberi nafkah.

Di dalam Ash-Shahihain disebutkan dari Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjual kebun korma Bani Nadhir, lalu menyimpan hasil penjualannya untuk makanan pokok keluarganya selama satu tahun. Jika ada yang bertanya, “Bagaimana dengan tindakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melarang Bilal untuk menyimpan harta?”.

Jawabnya: Orang-orang fakir dari kalangan shahabat di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tak ubahnya tamu. Buat apa mereka menyimpan harta jika dijamin tidak akan lapar? Bahkan bisa dijawab sebagai berikut: Keadaan Bilal dan orang-orang yang semacam dia dari Ahlush-Shuffah (orang-orang yang ada di emperan) memang tidak selayaknya untuk menyimpan harta. Jika mereka tidak terima, maka celaan tertuju pada sikap mereka yang mendustakan keadaan mereka sendiri, bukan pada masalah menyimpan harta yang halal.

Gambaran ketiga:

Mencari sebab langsung untuk menyingkirkan mudharat. Bukan termasuk syarat tawakal jika meninggalkan sebab-sebab yang dapat menyingkirkan mudharat. Misalnya, tidak boleh tidur di sarang binatang buas, di tempat aliran air, di bawah tembok yang akan runtuh. Semua ini dilarang.

Tawakal juga tidak berkurang karena mengenakan baju besi saat pertempuran, menutup pintu pada malam hari dan mengikat onta dengan tali. Allah berfirman, “Maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata”. (An-Nisa’:102)
Ada seorang laki-laki menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku harus mengikat ontaku dan bertawakal, ataukah aku melepasnya dan bertawakal?” Beliau menjawab, “Ikatlah dan bertawakallah”. (Diriwayatkan At-Tirmidzy)

Bertawakal dalam hal-hal ini adalah yang berkaitan dengan penyebab dan bukan pada sebab serta ridha terhadap apapun yang ditakdirkan Allah. Jika barang-barangnya dicuri orang, padahal andaikata ia waspada dan hati-hati tidak akan tercuri, lalu dia pun mengeluh setelah itu, maka nyatalah keadaannya yang jauh dari tawakal.

Ketahuilah bahwa takdir itu seperti dokter. Jika ada makanan yang datang, maka dia gembira dan berkata, “Kalau bukan karena takdir itu tahu bahwa makanan adalah bermanfaat bagiku, tentu ia tidak akan datang.” Kalau pun makanan itu pun tidak ada, maka dia tetap gembira dan berkata, “Kalau tidak karena takdir itu tahu bahwa makanan itu membuatku tersiksa, tentu ia tidak akan terhalang dariku.”

Siapa yang tidak yakin terhadap karunia Allah, seperti keyakinan orang sakit terhadap dokter yang handal, maka tawakalnya belum dikatakan benar. Jika barang-barangnya dicuri, maka dia ridha terhadap qadha’ dan menghalalkan barang-barangnya bagi orang yang mengambilnya, karena kasih sayangnya terhadap orang lain, yang boleh jadi adalah orang Muslim. Sebagian orang ada yang mengadu kepada seorang ulama, karena dia dirampok di tengah jalan dan semua hartanya dirampas. Maka ulama itu berkata, “Jika engkau lebih sedih memikirkan hartamu yang dirampok itu daripada memikirkan apa yang sedang terjadi di kalangan orang-orang Muslim, lalu nasehat macam apa lagi yang bisa kuberikan kepada orang-orang Muslim?”

Gambaran keempat:

Usaha menyingkirkan mudharat, seperti mengobati penyakit yang berjangkit dan lain-lainnya. Sebab-sebab yang bisa menyingkirkan mudharat bisa dibagi menjadi tiga macam:

Yang pasti, seperti air yang menghilangkan dahaga, roti yang menghilangkan lapar. Meninggalkan sebab ini sama sekali bukan termasuk tawakal.

Yang disangkakan, seperti operasi, berbekam, minum urus-urus dan lain-lainnya. Hal ini juga tidak mengurangi makna tawakal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berobat dan menganjurkan untuk berobat. Banyak orang-orang Muslim juga melakukannya, namun ada pula di antara mereka yang tidak mau berobat karena alasan tawakal, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu, tatkala dia ditanya, “Bagaimana jika kamu memanggilkan tabib untuk mengobatimu?” Dia menjawab, “Tabib sudah melihatku.”, “Apa katanya?”, tanya orang itu. Abu Bakar menjawab, “Katanya, ‘Aku dapat berbuat apa pun yang kukehendaki’.” Al-Mushannif Rahimahullah berkata, “Yang perlu kami tegaskan bahwa berobat adalah lebih baik. Keadaan Abu Bakar itu bisa ditafsiri bahwa sebenarnya dia sudah berobat, dan tidak mau berobat lagi karena sudah yakin dengan obat yang diterimanya, atau mungkin dia sudah merasa ajalnya yang sudah dekat, yang dia tangkap dari tanda-tanda tertentu.” Yang perlu diketahui, bahwa berbagai macam obat telah dihamparkan Allah di bumi ini.

Sebabnya hanya sekedar kira-kira, seperti menyundut dengan api. Hal ini termasuk sesuatu yang keluar dari tawakal. Sebab Rasullulah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mensifati orang-orang yang bertawakal sebagai orang-orang yang tidak suka menyundut dengan api. Sebagian ulama ada yang menakwili, bahwa yang dimaksudkan menyundut dalam sabda beliau, “Tidak menyundut dengan api”, ialah cara yang biasa dilakukan semasa Jahiliyyah, yaitu orang-orang biasa menyundut dengan api dan membaca lafazh-lafazh tertentu selagi dalam keadaan sehat agar tidak jatuh sakit. Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membaca ruqyah kecuali setelah ada penyakit yang berjangkit. Sebab beliau juga pernah menyundut As’ad bin Zararah Radhiyallahu Anhu. Sedangkan mengeluh sakit termasuk tindakan yang mengeluarkan dari tawakal. Orang-orang salaf sangat membenci rintihan orang yang sakit, karena rintihan itu menerjemahkan keluhan. Al-Fudhail berkata, “Aku suka sakit jika tidak ada yang menjengukku.” Seseorang pernah bertanya kepada Al-Imam Ahmad, “Bagaiman keadaanmu?” Al-Iman Ahmad berjawab, “Baik-baik.” “Apakah semalam engkau demam?” tanya orang itu. Al-Imam Ahmad berkata, “Jika sudah kukatakan kepadamu bahwa aku dalam keadaan baik, janganlah engkau mendorongku kepada sesuatu yang kubenci.” Jika orang sakit menyebutkan apa yang dia rasakan kepada tabib, maka hal itu diperbolehkan. Sebagian orang-orang salaf juga melakukan hal ini. Di antara mereka berkata, “Aku hanya sekedar mensifati kekuasaan Allah pada diriku.” Jadi dia menyebutkan penyakitnya seperti menyebutkan suatu nikmat, sebagai rasa syukur atas penyakit itu, dan itu bukan merupakan keluhan. Kami meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Aku sakit demam seperti dua orang di antara kalian yang sakit demam”.(Diriwayatkan Al-Bukhary dan Muslim)

Mei
09

Seorang ahli ibadah bernama Isam Bin Yusuf, sangat warak dan khusyuk sholatnya. Namun, dia selalu kuatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasainya kurang khusyuk.

Pada suatu hari, Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim Al-Assam dan bertanya, “Wahai Aba Abdurrahman, bagaimanakah caranya tuan sholat?”

Hatim berkata, “Apabila masuk waktu sholat, aku berwudhu zahir dan batin.”

Isam bertanya, “Bagaimana wudhu zahir dan batin itu? ”

Hatim berkata,”Wudhu zahir sebagaimana biasa yaitu membasuh semua anggota wudhu dengan air”.

Sementara wudhu batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara

  • Bertaubat
  • Menyesali dosa yang telah dilakukan
  • Tidak tergila-gilakan dunia
  • Tidak mencari/mengharap pujian orang (riya’)
  • Tinggalkan sifat berbangga
  • Tinggalkan sifat khianat dan menipu
  • Meninggalkan sifat dengki.”

Seterusnya Hatim berkata, “Kemudian aku pergi ke masjid, aku kemaskan semua anggotaku dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku rasakan:

  • Aku sedang berhadapan dengan Allah,
  • Syurga di sebelah kananku,
  • Neraka di sebelah kiriku,
  • Malaikat Maut berada di belakangku, dan
  • Aku bayangkan pula aku seolah-olah berdiri di atas titian ‘Siratal mustaqim’ dan menganggap bahwa sholatku kali ini adalah sholat terakhir bagiku, kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik.”

“Setiap bacaan dan doa didalam sholat, aku faham maknanya kemudian aku rukuk dan sujud dengan tawadhuk, aku bertasyahud dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersholat selama 30 tahun.”

Apabila Isam mendengar, menangislah dia karena membayangkan ibadahnya yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim.

“Sabda Nabi, ilmu itu milik Tuhan, barang siapa menyebarkan ilmu demi kebaikan, Insya Allah Tuhan akan menggandakan 10 kali kepadanya”

Apr
30

No

Nama Makanan (10 gr)

Kolesterol (Mg)

Kategori

1

Putih Telor Ayam

0

Sehat

2

Teripang (Haisom)

0

Sehat

3

Ubur-Ubur

0

Sehat

4

Susu Sapi Non Fat

0

Sehat

5

Daging Ayam Pilihan Tanpa Kulit

50

Sehat

6

Daging Bebek Pilihan Tanpa Kulit

50

Sehat

7

Ikan Sungai Biasa

55

Sehat

8

Daging Sapi Pilihan Tanpa Lemak

60

Sehat

9

Daging Kelinci

65

Sehat

10

Daging Kambing Tanpa Lemak

70

Sehat

11

Ikan Ekor Kuning

85

Sehat

12

Daging Asap (Ham)

98

Sekali-sekali

13

Iga Sapi

100

Sekali-sekali

14

Daging Sapi

105

Sekali-sekali

15

Burung Dara

110

Sekali-sekali

16

Ikan Bawal

120

Sekali-sekali

17

Daging Sapi Berlemak

125

Sekali-sekali

18

Gajih Sapi

130

Hati-hati

19

Gajih Kambing

130

Hati-hati

20

Keju

140

Hati-hati

21

Sosis Daging

150

Hati-hati

22

Kepiting

150

Hati-hati

23

Udang

160

Hati-hati

24

Kerang / Siput

160

Hati-hati

25

Belut

185

Berbahaya

26

Santan Kelapa

185

Berbahaya

27

Susu sapi

250

Berbahaya

28

Susu sapi Cream

280

Berbahaya

29

Coklat / Cacao

290

Berbahaya

30

Mentega / Margarin

300

Berbahaya

31

Jeroan Sapi

380

Berbahaya

32

Kerang Putih / Remis / Tiram

450

Berbahaya

33

Telor Ayam

500

Berbahaya

34

Jeroan Kambing

610

Berbahaya

35

Cumi-Cumi

1170

Pantang

36

Kuning Telor Ayam

2000

Pantang

37

Otak Sapi

2300

Pantang

38

Telor Burung Puyuh

3640

Pantang

Keterangan : Kolesterol Normal dalam darah : 160 – 200 Mg Kolesterol tinggi akan mengakibatkan penyakit mendadak seperti Hipertensi, Jantung, Stroke, kematian.

Sumber : GENERAL HOSPITAL , SINGAPORE

Apr
22

Penting jika suatu saat ditanya anak…..

Suatu pagi seorang anak yang baru masuk sekolah dasar bertanya kepada ayahnya,
‘Yah…….. ayah….. …sex itu apa sih, yah…..?’ 

Terperanjat si ayah mendengar pertanyaan si upik. Terbayang dia tentang arus moderen zaman sekarang yang membuat manusia berfikiran terbuka, termasuk anak yang masih kecil. Sesuai dengan konsep pendidikan seks yang sedang hangat dibicarakan, mulailah si ayah mencari-cari jawaban yang sesuai dengan umur dan harapan anaknya yang ia harapkan tak mau tertinggal dalam arus pendidikan modern.

Maka si ayah pun mulai memberikan jawaban dengan mengkiaskan kumbang dan bunga, telur yang yang menetas berudu dan kemudian menjadi katak, hujan serta benih yang berkembang menjadi tunas, diikuti dengan pembentukan bayi dalam kandungan.
Sebelum mengakhiri semua jawaban itu, si ayah menyelipkan juga kisah percintaan antara ia dan mamanya sejak dari zaman sekolah menengah hingga sampai kelahiran seorang bayi comel yaitu si anak yang bertanya itu. Tiba-tiba si anak menangis terisak-isak. Si ayah keheranan.
‘Eh kenapa …..?’
Si ayah bertanya keheranan. Tetapi si anak masih tetap menangis.

‘Jawabanya panjang amat…….. . hu………hu. …….hu, terus dimana tempat untuk nulis jawabannya.. ……… ..? 

Ayah ajalah yang nulis jawabanya !!!!!……hu. …..hu.. ….hu
Si upik lantas menyerahkan buku latihan Bahasa Ingris yang pada muka depannya tertulis…. ……… …

    NAME      : ………… ……… ……… ….
    SCHOOL : ………… ……… ……… …
    CLASS     : ………… ……… ……… ….
    SEX          :……….. ……… ……… …..

Apr
19

Bumi tanpa cahaya matahari akan hampa dan kehidupan akan binasa. Begitulah ibarat hati manusia, tanpa cahaya ilmu hati akan sakit dan mati. Di dalam hati seorang yang sakit, terdapat dua kecintaan dan dua penyeru. Kecintaan terhadap syahwat-syahwat, mengutamakannya dan semangat untuk melampiaskannya. Terdapat hasad, sombong, bangga diri, suka popularitas dan suka membuat kerusakan di muka bumi dengan kekuasaannya.

Dia akan diuji di antara dua penyeru kepada Allah dan Rosul-Nya serta negeri akhirat dan penyeru kepada kenikmatan dunia yang fana. Maka dia akan menjawab seruan itu mana yang paling dekat dengannya.

Seorang yang hatinya mati, dia tidak tahu tentang Rabb-nya, tidak menyembah-Nya, tidak mencintai apa yang dicintai-Nya dan tidak mencari Ridlo-Nya. Tetapi dia hanya menurti ambisi syahwat walaupun di sana akan mendatangkan kemarahan Rabb-Nya. Dia tidak peduli apakah Rabb-Nya ridlo atau murka yang penting dia telah melampiaskan syahwat dan keinginannya.

Rasa cinta, takut, pengharapan, keridloan, kemarahan, pengagungan, dan kerendahan dirinya diperuntukkan kepada selain Allah. Jika cinta, benci, memberi dan tidak memberi karena hawa nafsunya. Hawa nafsunyalah yang paling dia utamakan dan paling dia cintai dibanding keriloan maulanya (Allah Ta’ala). Maka jadilah hawa nafsu sebagai pimpinannya, syahwat sebagai penuntunnya, kebodohan sebagai pengemudinya dan lalai sebagai kendaraannya.

Sebagai hati yang disinari oleh cahaya ilmu dan disirami sejuknya ilmu, penyakit-penyakit yang berkarat di dalam hati akan terkikis dan sirna, jadilah hati tersebut bersih, sehat dan selamat.

Hati yang selamat adalah hati yang selamat dari setiap syahwat yang selalu menyelisihi perintah dan larangan Allah, selamat dari setiap syubhat (bid’ah) yang merancukan wawasannya, selamat dari kesyirikan dan selamat dari berhukum kepada selain Rosul-Nya.

Dia selalu mengutamakan keridhoan-keridhoan Rabb-Nya dengan segala cara. Rasa cinta, tawakal, taubat, takut, pengharapan dan amalannya ikhlas hanya untuk Allah. Jika dia cinta, memberi dan tidak semuanya karena Allah Ta’ala. Seorang yang mempunyai hati inilah yang selamat pada hari kiamat.

Allah berfirman : “Pada hari yang tidak bermanfaat harta tidak pla anak kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat” (Q.S Asy-Syu’ara : 88 – 89). (lihat Kitab Mawaridul Aman Al-Muntaqo min Ighotsatil Lahafan fi Mashoyidis Syaithon karya Al-Allamah Ibnu Qoyyim Al-Jauziah dengan tulisan Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid Hal 33 – 37).

Demikian keadaan hati yang tidak disinari dan hati yang selalu disinari dan disirami cahaya ilmu. Jelaslah bahwa ilmu itu sebagai obat penyakit yang ada pada dada manusia. Allah Ta’ala berfirman : “Wahai manusia sesungguhnya telah datang kepada kalian, pelajaran dari Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit (yang ada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”(Q.S. Yunus : 57).

“Maka Mauidlah (pelajaran/ilmu) sebagai obat dari kebodohan dan penyelewengan hati. Sesungguhnya kebodohan itu adalah penyakit, obatnya adalah bimibngan’. Demikian penafsiran al Allamah Ibnu Qoyyim Al Jauziyah Rahimahullah (lihat Kitab Mawarid hal 45).

Dengan ini wajib hukumnya bagi setiap muslim laki-laki atau perempuan, budak maupun orang merdeka untuk menuntut ilmu. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, “Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah dan dihasankan oleh Imam Al-Mizzy).

Kemudian apa sebetulnya yang dimaksud engan ilmu yang disebutkan dalam Al-Quran dan Hadits tentang keutamaan dan kedudukan orang yang mengilmuinya ? Al Imam Ibnu Hajar Al-Atsqolani rahimahullah menafsirkan ayt yang dibawaka oleh Al-Imam Bukhori dalam shohihnya “Bab Keutamaan Ilmu” : “Katakanlah (wahai Muhammad) Ya Rabbku tambahkanlah kepadaku ilmu” (QS Thoha : 114)

Beliau (Ibnu Hajar) berkata : “Ini dalil yang sangat jelas tentang keutamaan ilmu, karena Allah tidak pernah menyuruh Nabi-Nya Shalallahu’alaihi wasallam untuk meminta tambhan kecuali tambahan ilmu. Maksud ilmu tersebut adalah ilmu syar’I, yang berfaedah memberi pengetahuan apa yang wajib atas setiap mukallaf (muslim dan muslimah yang baligh) tentang perkara agama,ibadah dan muamalahnya. Ilmu mempelajari tentang Allah dan sifat-sifatnya dan apa yang wajib dia lakukan dari perintah-Nya serta mensucikannya dari sifat-sifatnya dan apa yang tercela. Poros dari semua itu adalah ilmu tafsir, ilmu Hadits dan ilmu Fiqh” (lihat Kitab Fathul Baari Syarah Shohih Bukhari 1/40).

Maka ilmu yang wajib kita pelajari adalah ilmu yang mempelajari tentang Allah, Rasul-Nya, Agama-Nya dengan dalil-dalil (lihat kitab Al-Ushuluts Tsalatsah karya Syaikhul Islam Muhammad Bin Abdul Wahab bin Sulaiman Bin Ali At-Tamimi Rahimahullah hal 1-3).

Belajar ilmu yang dimaksud di atas, harus bersumber dari Al-Quran dan Hadits sesuai dengan pemahaman Salaf (para Sahabat Nabi Shalallahu’alaihi wasallam dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik). Sebagian Ahlul ilmu (para ulama) sepakat : “ilmu adalah firman Allah dan sabda Rasul-Nya serta perkataan para sahabat tiada keraguan padanya”(lihat Bahjatunnadlirin syarah Riyadlusshalihin karya Syaikh Salim Bin ‘Ied Al-Hilali Juz 2 Hal 462).

Al-Imam Al-Auza’I berkata “Ilmu adalah apa yang datang dari sahabat-sahabat Muhammad Shalallahu’alaihi wasallam dan sesuatu yang tidak datang dari mereka, maka itu bukan ilmu.”(dikeluarkan oleh Ibnu Abdilbar dalam kitab Al-Jaami’ 2/29)

Al-Imam Abu Muhammad Al-Barbahari rahimahullah menyatakan, “Bahwa al-haq (kebenaran) adalah apa yang datang dari sisi Allah Azza wa Jalla, as-sunnah : sunnah (hadits) Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam dan Al-Jama’ah : kesepakatan (ijma’) para sahabat-sahabat shalallahu’alaihi wasallam pada khalifah Abu Bakar, Umar, dan Utsman.” (Syarhus Sunnah hal 105 No. 105).

Kesimpulan
Tuntutlah ilmu, maka sesungguhnya ilmu sebagai obat dari kebodohan dan penyelewengan hati. Bersemangatlah, carilah dari ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang berpedoman kepada Al-Quran dan Al-Hadits dengan pemahaman salaf (para sahabat Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik). Dan hati-hatilah dari ahlul bid’ah yang memakai ro’yu (pikiran), qiyas (yang bathil), perasaan dan ta’wil dalam memahami/menafsirkan Al-Quran dan Al-Hadits (lihat Syarhus Sunnah dan muqodimah kitab shohih muslim).

Sebagaimana himbauan seorang ulama dari kalangan Tabi’in Muhammad bin Sirrin rahimahullah : “Sesungguhnya ilmu itu adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”(diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqodimah Kitab Shohihnya 1/14). Wallahu Ta’ala A’lam.

Apr
18

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

Sahabatku, setiap manusia telah diberi rejeki. Tidak ada satu pun makhluk melata yang Allah ciptakan, kecuali sudah dengan rejekinya.

“Wa maa min dzaaabbatiin fil ardh illa ‘alallaahi rizquhaa.” – Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang Memberi rejekinya. (Q.S. Hud : 11 – 6).

Rejeki masing-masing telah diatur sedemikian rupa oleh Allah SWT. Bahkan semenjak di dalam janin, setiap manusia telah diberikan rejekinya. Namun, semakin dewasa, terkadang manusia merasa kesulitan untuk mencari rejeki, padahal keinginan manusialah yang membuat rejeki itu seakan-akan berjarak darinya.

Sebenarnya kita tidak disuruh mencari rejeki. Karena jika mencari belum tentu ada. Kita justru diperintahkan menjemput rejeki. Ada perbedaan, antara mencari dan menjemput. Bila mencari, berpeluang ada dan tiada. Namun jika menjemput, pasti ada. Hanya saja, belum tentu berjumpa. Bila tidak terampil menjemput, kendati ada yang dijemput, tetap saja tidak akan bertemu. Maka, kita tidak usah risau atau ketakutan tidak kebagian rejeki, namun risaulah bila kita tidak terampil dalam menjemput rejeki.

Andaikata kita seorang pekerja atau pebisnis, kita harus tahu bahwa rejeki itu pasti ada. Namun, kita pun tidak hanya diperintahkan berikhtiar untuk menjemput rejeki, tetapi juga mencari nilai tambah dari rejeki kita. Bukankah para penjahat dan koruptor juga diberi uang? Namun sayang, mereka tidak memiliki nilai tambah dari rejekinya.

Sahabatku, berikut ini adalah lima hal, yang Insya Allah jika kita lakukan, dunia akan kita dapatkan, akheratpun Insya Allah akan kita peroleh.

1. Bekerja Menjadi Amal Saleh

Bekerja adalah ibadah. Dan sebuah pekerjaan atau bisnis disebut menguntungkan, andaikata aktivitas ibadah kita menjadi amal saleh. Setiap manusia pasti mati. Harta yang dikumpulkan pun tidak akan dibawa. Begitu juga pangkat dan jabatan, tidak akan ikut serta. Yang akan mengikuti kita nanti adalah amal kebajikan kita. Maka, tolong pastikan, pekerjaan kita harus menjadi amal saleh. Karena bekerja dan bisnis itu menyita waktu, bila tidak jadi amal, tentu sebuah kerugian!

Berapapun kekayaan seseorang, tetap saja harta mereka tidak akan dibawa mati. Kalau dalam mencari kekayaan kita tidak ingat kepada Allah dan tidak menjadi amal, sungguh sulit dimengerti. Karena dia tidak mendapatkan apapun dari bekal kematiannya. Intinya, dunia harus kita dapatkan, namun pulang pun harus memikirkan bekal. Itulah tugas kita.

Bagaimana caranya? Pertama, luruskan niat di dalam diri, bahwa aktivitas pekerjaan untuk menafkahi keluarga adalah sebagai bentuk tanggungjawab. “Niat saya bekerja adalah agar memiliki hidup yang bermanfaat bagi umat manusia,” khususnya sanak keluarga dan tetangga. “Niat saya bekerja adalah karena saya ingin banyak beramal dan mematuhi perintah Allah.”

Jika niat sudah benar, selanjutnya adalah proses ikhtiar. Karena ikhtiar pun harus benar. Tidak mengenal licik. Tidak mengenal ingkar janji. Dan tidak mengenal tidak jujur. Toh, untuk apa? Bukankah penjahat saja diberi rejeki? Lalu, bagaimana mungkin orang jujur tidak diberi rejeki? Oleh karena itu, jangan nodai kesibukan pekerjaan kita dengan perbuatan nista. Jangan nodai pekerjaan kita dengan lalai kepada Allah SWT. Pontang panting kita sibuk dengan aktivitas kerja, namun shalat tidak terjaga. Demi Allah, kita semua pasti mati. Dan tidak akan membawa apapun kecuali amal saleh. Maka, luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar di jalan Allah.

2. Bekerja Untuk Membangun Citra

Bekerja atau berbisnis itu disebut untung, ketika kita mampu membangun citra. Kekayaan kita adalah nama baik kita. Apalah artinya uang kita dapatkan, jabatan berhasil kita raih, namun nama baik hancur. Kendati seorang koruptor memiliki rumah mewah dan mobil mentereng, namun dirinya tidak memiliki harga sama sekali.

Contohlah Nabi Muhammad SAW. Meskipun beliau tidak memiliki harta pada awalnya, namun beliau memiliki gelar Al Amin, yakni orang yang sangat terpercaya (amanah/kredibel). Dampaknya, para investor berlomba-lomba menitipkan modal kepada beliau, berduyun-duyun ikut bertransaksi dengannya.

Maka, seorang pekerja atau pebisnis yang bagus adalah yang terus bekerja untuk membangun citra atau nama baiknya, agar semakin kredibel. Apalah artinya memiliki pangkat, jabatan, namun tidak memiliki nama baik. Jangan gadaikan dan hancurkan nama baik serta karir kita, hanya karena duniawi belaka.

3. Bekerja Untuk Meningkatkan Kualitas Pribadi

Yang dimaksud beruntung dalam bekerja, sukses dalam bisnis adalah andaikata dengan bekerja, kualitas pribadi kita semakin meningkat. Kekayaan yang hakiki itu bukan sesuatu yang ada di luar kita, namun kekayaan yang hakiki adalah pembentukan pribadi kita. Banyak terjadi, dimana seseorang yang sebelum naik pangkat memiliki akhlak yang baik, namun justru setelah naik pangkat akhlaknya menjadi buruk. Kalau begitu, apa artinya naik pangkat kalau pribadinya menjadi turun kualitasnya?

Jendral Sudirman bisa menjadi salah satu contoh seseorang yang memiliki pribadi berkualitas. Kendati ia telah wafat, jasadnya sudah terkubur tanah, namun namanya tetap saja harum. Padahal tidak sedikit yang kini masih berpangkat namun mereka sudah dihina, dinista. Mengapa? Karena tidak sebanding antara pangkat, jabatan dengan kualitas pribadinya.

Maka jangan terkecoh. Naik pangkat dan jabatan tidak selalu identik dengan naik kemuliaan, namun identik dengan naiknya cobaan. Jangan merasa bangga dengan naiknya jabatan atau kedudukan, karena belum tentu selamat dunia-akhirat. Tidak sedikit orang yang menjadi terhina sesudah naik jabatan, akibat kualitas pribadinya tidak meningkat.

Keberuntungan harus dikaitkan dengan perubahan untuk menjadi lebih baik. Nabi SAW mengisyaratkan, orang yang beruntung adalah “Man kaana yaumuhu khairan min amsihi fahuwa raakihun” Barang siapa yang hari ini berubah menjadi lebih baik daripada hari kemarin, dialah orang yang beruntung.

Selayaknya kita pahami bahwa keuntungan dalam bekerja adalah ketika seorang pekerja atau pebisnis dapat bertambah ilmu, bertambah wawasan, dan bertambah pengalaman baru. Karena meskipun umurnya bertambah, namun pribadinya Insya Allah akan semakin berkualitas. Akhlak semakin mulia, iman bertambah kokoh, dan pribadi semakin cemerlang. Kemuliaan sesungguhnya bukan melekat pada pangkat, gelar atau jabatan, namun melekat pada pribadinya.

4. Bekerja Untuk Memperbanyak Silaturrahmi

Dalam berkarir atau berbisnis, seseorang disebut beruntung atau sukses ketika ia dapat memperbanyak silaturrahmi, dan berhasil membangun banyak jaringan orang-orang yang menyayangi. Apalah artinya kita memiliki banyak uang dan berhasil meraih kedudukan, namun banyak musuh.

Bila orang telah menyukai kita, bila orang telah menyayangi kita, maka rejekinya Insya Allah bisa menjadi rejeki kita. Ilmunya pun akan menjadi ilmu kita. Pengalamannya akan diberikan kepada kita, jaringannya akan menjadi jaringan kita, tabungannya pun bisa menjadi modal kita. Dan kekuatannya bisa menjadi perlindungan bagi kita. Dalam berbisnis, yang paling utama adalah membangun sebanyak mungkin sahabat, teman dan saudara.

Kita harus mau mengeluarkan semua potensi agar bisa mendapatkan orang yang bisa menyayangi kita. Apalah artinya, kita menjadi atasan, namun dibenci oleh bawahannya. Apalah artinya kita memiliki harta berlimpah, namun dikutuk oleh orang-orang yang berinteraksi dengan kita. Kesuksesan seseorang adalah ketika dia berhasil menjadi seseorang yang disayangi orang lain.

Jangan gadaikan kehidupan kita. Karena sekali kita memiliki musuh, maka orang yang kita musuhi akan bercerita kepada sanak saudaranya. Sanak saudaranya kemudian akan bercerita di lingkungan sekitarnya. Sekali saja kita mengecewakan orang, akan begitu banyak orang yang tidak menyukai kita. Dan itu bisa menjadi penjara bagi kita.

5. Bekerja Untuk Memberikan Manfaat Bagi Orang Banyak

Bekerja adalah “Khairunnas anfauhum linnas (manusia terbaik adalah yang bermanfaat bagi manusia lain)”(HR Thabrani).

Bekerja yang baik, berkarir yang baik, berbisnis yang baik adalah yang bermanfaat bagi orang banyak. Semakin banyak orang yang merasakan manfaat dari kita, maka akan semakin sukses diri kita. Apalah artinya kita punya sesuatu, tapi orang-orang di sekitar kita tidak mendapat manfaat.

Bukankah disebut tidak beriman, orang yang dirinya kenyang, namun tetangganya lapar? Sebaik-baik karyawan adalah karyawan yang banyak manfaatnya. Sebaik-baik pejabat adalah pejabat yang paling banyak manfaatnya. Sebaik-baik bisnis adalah bisnis yang banyak memberikan manfaat, sebaik-baik manusia adalah “Khairunnas anfauhum linnas,” yakni orang yang paling banyak manfaatnya.

Dengan kata lain, seburuk-buruk pekerja adalah pekerja yang tidak bermanfaat, seburuk-buruk karyawan adalah karyawan yang tidak bermanfaat, seburuk-buruk atasan adalah atasan yang tidak membawa manfaat, dan seburuk-buruk manusia adalah yang tidak membawa manfaat dan bahkan membawa mudharat.

Sahabatku, andaikata kita sudah gigih, bekerja pun dengan hati-hati, sudah gigih menjaga kualitas dan nama baik, sudah gigih untuk membuat jaringan, dan sudah gigih untuk bermanfaat, demi Allah, tidak akan tertukar rejeki kita. Tidak akan ada yang bisa menolak rejeki yang akan datang kepada kita. Begitupun kemuliaan. “Inna akramakum ‘indaallaahi atqaakum. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.” (Q.S. Al-Hujurat : 13).

Maka jangan pernah biarkan ada noda kelicikan dan ketidakjujuran. Apalagi di saat seperti ini, masyarakat kita sudah berubah dengan hadirnya teknologi yang mudah membuka kebaikan atau keburukan seseorang. Semua kejatuhan nama, pada awalnya karena terlalu cinta kepada dunia ini. Padahal dunia tidak akan tertukar.

Sahabatku, cita-cita kita adalah bagaimana agar kesibukan kerja kita bisa menjadi amal saleh. Bagaimana kesibukan kita bisa menjadi warisan citra dan nama baik. Bagaimana kesibukan kita bisa menumbuhkan kualitas pribadi menjadi semakin bermutu dan memiliki iman yang kokoh. Bagaimana kesibukan kita bisa memperbanyak jaringan untuk kebersamaan, dan bagaimana kesibukan kita bisa membawa manfaat bagi orang banyak.

Demi Allah, Allah Berjanji : “Walladzina jahadu fina lanahdiyannahum subulana.” “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami Tunjukan kepada mereka Jalan-jalan Kami.”(Q.S. al-Ankabut : 69)

Ketahuilah, orang-orang yang bersungguh-sungguh, maka Allah akan lebih bersungguh-sungguh memberikan yang terbaik. Tidak ada yang bisa menghalangi. Walau bergabung jin dan manusia untuk menghalangi, tidak akan terhalang apa yang Allah tetapkan terhadap kita. Walau bergabung jin dan manusia untuk mencelakakan kita, tidak akan jatuh sehelai rambut pun tanpa seijin Allah. Percayalah hidup ini akan lebih indah jika kita bersungguh-sungguh di jalan yang Allah ridhai. Wallahu a’lam bish showab.